Oleh : Muh Gufron Hidayatullah *(
Pendahuluan
Bagaimana seandainya masyarakat sudah tidak lagi mampu membedakan antara sarana (wasā’il) dan tujuan (maqāṣid). Padahal, dalam setiap aktivitas mereka selalu terdapat dua unsur tersebut. Sarana berfungsi sebagai alat untuk mengantarkan mereka menuju tujuan, sedangkan tujuan merupakan hasil akhir yang hendak dicapai dan diharapkan. Ketika sarana diposisikan sebagai tujuan, orientasi menjadi kabur, prioritas berubah, dan makna dari suatu aktivitas perlahan menghilang tanpa nilai dan bisa jadi menjadi penghalan mencapai yang dicita-citakan.
Dalam kajian maqāṣid al-syarī’ah, kesalahan ini memiliki dampak yang sangat besar. Syariat tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengarahkan manusia agar memahami mengapa sesuatu dilakukan dan perlu diperjuangkan, mengapa sesuatu itu tidak perlu dilakukan dan bahkan wajib ditinggalkan, mengapai itu perlu dihadapi atau diabaikan.
Oleh sebab itu, para ulama selalu menegaskan bahwa wasilah memperoleh nilainya karena mengantarkan kepada maqāṣid, shalat bernilai karena nilainya menyembah tuhan, ngaji bernilai karena menambah ilmu, tulisan bernilai karena bermanfaat.
Baca Juga
Fastabiqul Khairāt atau Fastabiqud al-Taghayyurat? Membaca Ulang Makna Perlombaan dalam Al-Qur’an
Jadi, Sarana dapat berubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman, sedangkan tujuan syariat tetap menjadi orientasi utama. Memahami perbedaan keduanya bukan hanya penting dalam kajian hukum Islam, tetapi juga dalam pendidikan, penelitian, pekerjaan, bahkan kehidupan sehari-hari. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa ilustrasi sederhana berikut.
Ketika Piring Dijadikan Tujuan, Bukan Nasi
Seseorang membeli piring agar dapat menikmati makanan. Piring hanyalah wadah, sedangkan nasi adalah tujuan yang ingin disantap. Tidak ada orang yang merasa kenyang hanya karena memiliki piring yang mahal, terbuat dari perak atau bahkan mas permata yang bila ingin memilikinya harus berjuan mencari uang yang tak mudah didapatkan. Apabila seseorang lebih sibuk memperdebatkan bentuk piring dan harga daripada memastikan makanan tersedia halal atau haram, maka ia telah kehilangan orientasi. Demikian pula dalam kehidupan, banyak orang begitu menjaga sarana hingga melupakan tujuan yang hendak dicapai.
Ketika Google Maps Menjadi Tujuan, Bukan Tempat yang Dituju
Google Maps membantu seseorang menemukan jalan menuju lokasi tertentu seperti mushalla atau masjid untuk shalat, seperti rumah saudara untuk silaturrahim, seperti kelas untuk belajar, seperti sosok orang shaleh untuk sowan dan meminta nasehat dan seperti guru untuk belajar mendalami ilmu pengetahuan.
Namun tidak ada orang yang bepergian hanya untuk melihat peta digital tanpa pernah tiba di tempat tujuan. Peta hanyalah petunjuk arah. Apabila perhatian hanya tertuju pada aplikasi tanpa melanjutkan perjalanan, maka fungsi peta menjadi hilang, nilainya tidak ditemukan. Begitulah wasilah; ia menunjukkan jalan, bukan menjadi tujuan perjalanan.
Ketika Kendaraan Menjadi Tujuan, Bukan Keselamatan Perjalanan
Kendaraan merupakan alat transportasi. Mobil yang mewah atau sepeda motor yang canggih tidak memiliki makna apabila tidak mampu mengantarkan penumpangnya dengan aman dan sampai pada tempat yang dituju. Fokus utama perjalanan bukanlah kendaraan itu sendiri, melainkan keselamatan dan sampainya seseorang di tujuan. Kualitas kendaraan memang penting, tetapi nilainya terletak pada kemampuannya melayani tujuan tersebut. Sampai adalah tujuan sedangkan apapun kendaraannya asalkan aman dan mudah dipakai itu bisa digunakan.
Ketika Ruang Kelas Menjadi Tujuan, Bukan Ilmu
Gedung sekolah, ruang kelas, meja, kursi, dan fasilitas pembelajaran merupakan sarana pendidikan. Akan tetapi, tujuan pendidikan adalah lahirnya ilmu, terbitnya nur ilmu, pemahaman, gagasan, karakter ketaatan, dan perubahan perilaku dan malas menjadi rajin, dari ahli maksiat menjadi ahli ibadah, dari sombong menjadi rendah hati, dari gelab beruba terang. Ruang kelas yang megah tidak otomatis melahirkan peserta didik yang berilmu apabila proses belajar tidak berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, fasilitas pendidikan harus dipahami sebagai wasilah yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan yaitu ilmu dan kedetakan pada tuhan.
Ketika Laptop Menjadi Tujuan, Bukan Menulis dan Membaca
Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai perangkat yang memudahkan pekerjaan. Laptop adalah alat untuk menghasilkan karya, membaca referensi, melakukan penelitian, atau menyelesaikan tugas. Ketika seseorang lebih bangga memamerkan perangkatnya daripada menghasilkan karya ilmiah, maka alat telah bergeser menjadi tujuan. Nilai sebuah perangkat bukan pada kepemilikannya, melainkan pada manfaat yang dihasilkannya.
Ketika Kertas Menjadi Tujuan, Bukan Isi Tulisan
Dalam dunia akademik, kualitas sebuah karya tidak diukur dari jenis kertas yang digunakan, melainkan dari isi, argumentasi, dan kontribusi keilmuan yang terkandung di dalamnya. Apa perubahan yang didapat setelah membaca, apa nilai yang didapat setelah menelaah dan apa kedekatan yang bertambah setelah mengkhatamkan bukunya. Kertas hanyalah media penyampai gagasan. Memperindah wadah tanpa memperhatikan isi sama seperti mengutamakan kemasan tetapi mengabaikan substansi.
Ketika Ilmu Menjadi Tujuan, Bukan Amal
Dalam perspektif Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia lebih dari segalanya. Namun kemuliaannya tidak berhenti pada proses mengetahui. Ilmu seharusnya melahirkan amal, kedekatan, keikhlasan, kebaikan dunia dan akhirat, memperbaiki akhlak, dan membawa manfaat bagi sesama, baik manfaat dunia seperti bersedekah atau akhirat seperti kedekatan pada sang pencipta. Ilmu yang tidak diwujudkan dalam tindakan ibarat cahaya yang tidak pernah menerangi. Oleh sebab itu, ilmu merupakan jalan menuju amal, bukan tujuan akhir yang berhenti pada penguasaan teori semata. Ilmu adalah lampu, cahayanya adalah amal yang akan menerangi apapun yang mendekat padanya.
Ketika Publikasi Scopus Menjadi Tujuan, Bukan Manfaat Tulisan
Dalam dunia akademik modern, publikasi pada jurnal bereputasi dianggap menjadi salah satu indikator keberhasilan seorang peneliti. Akan tetapi, apabila publikasi hanya dijadikan target administratif, sementara manfaat penelitian bagi masyarakat diabaikan, maka orientasi keilmuan telah bergeser, rabun dan tak lagi bernilai secara ruh Islam. Indeksasi hanyalah sarana penyebaran ilmu, sarana menyebarkan ilmu sedangkan tujuan hakikinya adalah menghasilkan pengetahuan yang memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu dan kemaslahatan umat. Apabila artikel yang publish setiap semester ribuan, namun tak memberikan perubahan pada masyarakat, maka itu sia-sia. Karena pada hakitanya dalam sejarah perubahan banya terjadi karena pertemuan antara personal teman dengan teman, atau murid dengan guru. Bukan hanya karena terbitnya buku sebagai wasilah.
Ketika Amal Menjadi Tujuan, Bukan Ridha Allah
Inilah puncak dari seluruh pembahasan. Dalam Islam, ibadah, amal saleh, dakwah, sedekah, bahkan seluruh aktivitas kehidupan hanyalah wasilah untuk memperoleh ridha Allah Swt. Amal bukanlah tujuan akhir, ilmu bukan tujuan akhir, pesawat bukan tujuan kahir melainkan jalan menuju tujuan yang lebih tinggi. Ketika seseorang lebih sibuk menghitung banyaknya amal daripada menjaga keikhlasan dan mengharap ridha Allah, maka ia berisiko terjebak pada formalitas tanpa menghadirkan makna spiritual yang sesungguhnya.
Penutup
Kesalahan membedakan antara wasā’il dan maqāṣid merupakan penyebab bergesernya orientasi dalam kehidupan. Seseorang dapat bekerja sangat keras, belajar sangat tinggi, atau beribadah dengan sangat rajin, tetapi tetap kehilangan arah apabila sarana diperlakukan sebagai tujuan. Padahal, seluruh sarana memperoleh nilainya hanya karena mampu mengantarkan manusia kepada tujuan yang lebih luhur.
Marilah kita menyadari hal ini tanpa merubah apa yang layak diikuti. Perubahan wasilah tak begitu berarti yang terpenting maqasid selalu menjadi tujuan inti. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat meskipun hanya wasilah. Apabila tak perubahan pada diri anda sebagai pembaca segera mencari wasilah lain yaitu guru yang membimbing. Wallahu A’lam bi Al-Shawab.
