Posted in

Fastabiqul Khairāt atau Fastabiqud al-Taghayyurat? Membaca Ulang Makna Perlombaan dalam Al-Qur’an

Fastabiqul Khairāt atau Fastabiqud al-Taghayyurat? Membaca Ulang Makna Perlombaan dalam Al-Qur’an
Fastabiqul Khairāt atau Fastabiqud al-Taghayyurat? Membaca Ulang Makna Perlombaan dalam Al-Qur’an

Musābaqah pada dasarnya terbagi menjadi dua macam: musābaqah menurut perspektif manusia dan musābaqah menurut perspektif syariat. Musābaqah dalam pandangan manusia umumnya dimaknai sebagai perlombaan yang berorientasi pada kemenangan duniawi semata, seperti persaingan dalam harta, jabatan, popularitas, atau prestasi tertentu. Perlombaan semacam ini sering kali tidak memiliki hubungan langsung dengan pahala akhirat, karena tujuan utamanya hanyalah mengalahkan orang lain dan memperoleh keuntungan dunia atau popularitas.

Adapun musābaqah dalam perspektif syariat adalah perlombaan yang memiliki tujuan jelas, yaitu meraih maghfirah Allah Swt. dan memperoleh surga-Nya. Perlombaan ini hanya dapat diikuti oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Bentuk perlombaannya bukanlah niat saling ungul-unggulan dari orang lain, atau ajang berbangga-banggaan, melainkan berlomba dalam bagaimana bisa menjalankan kebaikan, ketaatan, dan amal saleh. Karena itu, inti dari musābaqah syar‘iyyah ialah menjauhi maksiat dan menaati seluruh perintah Allah Swt.

سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ۝٢١

Berlombalah menuju ampunan dari Tuhanmu (dengan bertaubat dan menjalankan taat) dan surga yang lebarnya (luasnya) selebar langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah adalah Pemilik karunia yang agung.

Baca Juga

__________________________

Lain dari itu, biasanya setelah manusia memiliki pandangan hidupnya masing-masing, memiliki ilmu dan pemahamannya sendiri-sendiri, serta menentukan arah dan tujuan hidup yang berbeda-beda, ada satu jalan yang tetap wajib ditempuh oleh setiap mukmin, yaitu berlomba menuju al-khairāt (kebaikan). Inilah yang disebut oleh Al-Qur’an dengan istilah fastabiqu al-khairāt, yakni bersegera dan saling mendahului dalam kebaikan.

Manusia boleh berbeda dalam cara berpikir, profesi, kedudukan, dan pilihan hidupnya. Namun, seluruh perbedaan itu pada akhirnya harus bermuara pada satu orientasi yang sama: ketaatan kepada Allah Swt. Sebab, kemuliaan seorang hamba bukan diukur dari seberapa jauh ia mengungguli manusia lain dalam urusan temporal, melainkan seberapa cepat ia mendekat kepada Allah melalui amal saleh dan ketakwaan.

{ وَلِكُلٍّ من الأمم { وِجْهَةٌ } قبلة { هُوَ مُوَلّيهَا } وجهه في صلاته وفي قراءة (مُوَلاَّها ) { فَاسْتَبِقُواْ الخَيْرَاتِ } بادروا إلى الطاعات وقبولها { أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا } يجمعكم يوم القيامة فيجازيكم بأعمالكم { إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْء قَدِيرٌ }.

Dalam Tafsir Tafsir al-Jalalayn  tersebut, frasa fastabiqu al-khairāt dimaknai sebagai perintah untuk bersegera menuju ketaatan dan meraih penerimaan di sisi Allah Swt. Dengan demikian, hakikat perlombaan dalam Islam bukanlah sekadar kompetisi, tetapi perlombaan untuk menjadi hamba yang paling taat, paling ikhlas, dan paling dekat kepada-Nya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kompetisi, tetapi mengarahkan manusia kepada kompetisi yang benar, yaitu perlombaan dalam amal saleh, akhlak mulia, dan ketundukan kepada Allah Swt.

Author

Wakil Pengasuh PPK Alif Lam Mim Surabaya