Beberapa decade terakhir dunia barat seringkali gencar menyerang label, gerakan, dan atribut tradisional perempuan Muslim yang mengenakan hijab, sehinga Sebagian kelompok feminis menyerang hijab dengan argumen yang bisa penulis katakana hanya itu-itu saja: “Hijab adalah opresi, hijab adalah penindasan, hijab bukan pilihan bebas”.
Tulisan ini tak lain hanya ingin merespon klaim tersebut satu per satu, dengan membandingkannya pada objek lain yang juga dipakai perempuan barat setiap hari yaitu sepatu hak tinggi.
Perbandingan ini tidak melihat bagaimana represi itu berjalan di ranah kita. Tetapi sebagai respon argumentasi atas klaim barat yang cacat secara logika (Standar Ganda) yang selama ini jarang dipersoalkan.
Sepatu Hak Tinggi
Jika sepatu hak tinggi, yang membuat wanita hampir mustahil untuk berdiri, apalagi berjalan, dapat dikenakan dan dipilih secara bebas, hal itu tidak lantas membuat sepatu tersebut bukan pilihan, apalagi penindasan. Hal yang sama tentu berlaku juga untuk hijab dan niqab.
Namun sepengetahuan saya, tidak ada satu pun, di mana pun di dunia Barat, yang pernah mempertimbangkan secara serius untuk mengesahkan undang-undang yang melarang sepatu semacam itu, pembuatannya, atau pemakaiannya, termasuk di sekolah atau kantor pemerintah.[1]
Pertanyaannya sederhana. Jika feminis punya masalah dengan hijab karena dianggap berbahaya, bahkan ketika dipilih secara bebas, mengapa mereka tidak mengatakan hal yang sama tentang sepatu hak tinggi dan rasa sakit yang ditanggung perempuan karena sepatu itu?
Mengapa mereka tidak menolak kebebasan perempuan memakai sepatu hak tinggi dengan cara yang sama seperti mereka menolak kebebasan perempuan berhijab? Mengapa tidak ada desakan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk melarang pembuatan dan pemakaian sepatu semacam itu?
Mengapa budaya Barat yang menormalisasi sepatu yang menindas dan berbahaya bagi tubuh tidak pernah dikutuk, sementara budaya Muslim yang menormalisasi hijab terus-menerus dituduh menindas?
Dari permasalahan menyoal hijab, hal ini menjadi bahasan menarik dikarnakan kompleksitasnya termasuk dalam pandangan fungsional dan aspek lainnya.
Dengan mengenakan pakaian keagamaan Islami, seseorang akan merasa jauh lebih nyaman, jauh lebih kecil kemungkinannya untuk terkilir pergelangan kaki, terpeleset di atas es, tersandung di trotoar yang tidak rata, mengalami kerusakan permanen pada kaki, atau menderita linu panggul kronis dan cedera punggung lain, yang justru sering diderita wanita modern pemakai sepatu hak tinggi.
Dengan mengungkapkan pikiran mereka dalam kata-kata yang bukan milik mereka sendiri, membungkusnya dalam bentuk verbal yang dimensi historisnya tidak mereka sadari, manusia percaya bahwa ucapan mereka adalah pelayan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang menundukkan diri pada tuntutan bahasa itu sendiri.
Baca Juga
Mari berfikir sejenak ”Saat Piring Dianggap Nasi: Ketika Sarana Disalahpahami sebagai Tujuan”
Foucault secara jelas menunjuk pada sesuatu yang relevan untuk perdebatan ini. Bahasa yang dipakai untuk membicarakan hijab, kata opresi, kata penindasan, kata korban, bukan bahasa netral. Bahasa itu punya sejarah, punya kepentingan, dan sering dipakai tanpa disadari oleh pemakainya sendiri. Ketika feminis Barat berbicara atas nama perempuan Muslim, mereka sering meminjam kerangka yang tidak lahir dari pengalaman perempuan Muslim itu sendiri.
Klaim bahwa hijab bersifat menindas berulang kali diucapkan, namun penelitian empirik justru menunjukkan arah yang berbeda. “Dimana mengenakan hijab berkaitan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan kesejahteraan mental yang lebih baik”. Studi ini melihat dari sisi lain, bahwa hijab menumbuhkan harapan yang lebih besar dalam hidup, sementara gaya berpakaian Barat justru menampakkan efek sebaliknya.
Dalam aspek lain, bisa penulis katakana bahwa nilai-nilai Islam, seperti anjuran mengenakan pakaian yang menutup aurat, secara jelas melindungi citra tubuh dan kesehatan mental perempuan Muslim dari standar kecantikan media Barat yang tidak realistis.
Dalam tulisannya Alexander J Mussap Professor di bidang Psikologi, Tingkat religiusitas yang lebih tinggi berhubungan dengan ketidakpuasan tubuh yang lebih rendah, objektifikasi tubuh yang lebih rendah, dan gangguan makan yang lebih sedikit.[2]
Penggunaan hijab menghasilkan citra tubuh yang lebih positif, berkurangnya obsesi terhadap penampilan, dan berkurangnya ketergantungan pada standar kecantikan media Barat. Efek ini didorong oleh hijab secara spesifik, bukan sekadar oleh religiusitas, yang dalam penelitian tersebut hanya berperan sebagai kovariat.[3]
Masalah Utama
Feminis kerap berbicara atas nama perempuan Muslim untuk mengklaim bahwa hijab dan Islam secara umum bersifat menindas. Secara tegas penulis katakana sikap ini gagal mempertimbangkan suara perempuan Muslim yang sesungguhnya. Pada kenyataannya, perempuan Muslim sendiri membantah mitos-mitos feminis tentang hijab, dan justru mengatakan jika Islam melindungi mereka.[4]
Singkatnya, Penulis melihat fenomena Perbandingan antara hijab dan sepatu hak tinggi bukan untuk menyamakan keduanya secara mutlak, melainkan untuk menunjukkan bahwa standar yang dipakai untuk menilai kebebasan perempuan sering tidak konsisten. Selama kritik terhadap hijab tidak diikuti kritik yang setara terhadap norma berpakaian lain yang sama-sama membebani tubuh perempuan, argumen “hijab itu penindasan” lebih tepat disebut prasangka/opini tak berdasar (Islamofobia) yang dibungkus istilah akademik, bukan analisis yang berdiri di atas data.
Wallahu A’lam..
Refrensi :
Droogsma, Rachel A. “Redefining Hijab: American Muslim Women’s Standpoints on Veiling.” Journal of Applied Communication Research 35, no. 3 (2007): 294–319. https://doi.org/10.1080/00909880701434299.
Khazan, Olga. “Why Women’s Shoes Are So Painful: One Sufferer Seeks Relief for Her Bleeding Feet.” The Atlantic. October 4, 2018. https://www.theatlantic.com/health/archive/2018/10/why-womens-shoes-are-so-painful/574285/.
Mussap, Alexander J. “Strength of Faith and Body Image in Muslim and Non-Muslim Women.” Mental Health, Religion & Culture 12, no. 2 (2009): 121–127. https://doi.org/10.1080/13674670802358190.
Swami, V., J. Miah, N. Noorani, and D. Taylor. “Is the Hijab Protective? An Investigation of Body Image and Related Constructs among British Muslim Women.” British Journal of Psychology 105 (2014): 352–363. https://doi.org/10.1111/bjop.12045.
[1]Olga Khazan, “Why Women’s Shoes Are So Painful: One Sufferer Seeks Relief for Her Bleeding Feet,” The Atlantic, 4 Oktober 2018, https://www.theatlantic.com/health/archive/2018/10/why-womens-shoes-are-so-painful/574285/.
[2]Alexander J. Mussap, “Strength of Faith and Body Image in Muslim and Non-Muslim Women,” Mental Health, Religion & Culture 12, no. 2 (2009): 121–127, doi:10.1080/13674670802358190.
[3]V. Swami, J. Miah, N. Noorani, dan D. Taylor, “Is the Hijab Protective? An Investigation of Body Image and Related Constructs among British Muslim Women,” British Journal of Psychology 105 (2014): 352–363, https://doi.org/10.1111/bjop.12045.
[4]Rachel A. Droogsma, “Redefining Hijab: American Muslim Women’s Standpoints on Veiling,” Journal of Applied Communication Research 35, no. 3 (2007): 294–319, https://doi.org/10.1080/00909880701434299.