Posted in

Konsep Tawakkal dalam Al-Qur’an dan Hadis: Analisis Pemikiran Sayyid Muhammad dalam Kitab Qul Hādhihi Sabīlī

Konsep Tawakkal dalam Al-Qur’an dan Hadis: Analisis Pemikiran Sayyid Muhammad dalam Kitab Qul Hādhihi Sabīlī
Konsep Tawakkal dalam Al-Qur’an dan Hadis: Analisis Pemikiran Sayyid Muhammad dalam Kitab Qul Hādhihi Sabīlī


(Bab Tawakkal)

Di antara sifat-sifat yang dapat menyelamatkan manusia dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. adalah tawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya, keridaan terhadap ketetapan-Nya, niat yang baik dalam berhubungan dengan-Nya, serta keikhlasan dalam beramal, baik secara lahir maupun batin. Tawakkal kepada Allah Swt. merupakan salah satu maqām orang-orang yang memiliki keyakinan (ahl al-yaqīn) dan merupakan buah dari keimanan yang kokoh. Al-Qur’an menegaskan pentingnya tawakkal dalam beberapa ayat, di antaranya firman Allah Swt., “Bertawakallah kepada Allah” (QS. al-Naml [27]: 79). Allah Swt. juga menyatakan kecintaan-Nya kepada hamba-hamba yang bertawakkal, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 159). Selain itu, tawakkal diposisikan sebagai konsekuensi keimanan yang sejati, sebagaimana firman-Nya, “Dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman” (QS. al-Mā’idah [5]: 23). Bahkan, Allah Swt. menegaskan bahwa Dia adalah sebaik-baik tempat bersandar, “Dan bertawakallah kepada Allah; cukuplah Allah sebagai tempat bergantung” (QS. al-Aḥzāb [33]: 3).

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوْ خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيْ وَابْنُ مَاجَهَ وَالْحَاكِمُ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الحِلْيَةِ

“Apabila kalian benar-benar merealisasikan tawakkal kepada Allah secara sempurna—dengan bersandar penuh kepada-Nya sekaligus tetap berikhtiar atau tidak meninggalkan sebab datangnya rezeki seperti khidmah—niscaya Allah Swt. akan menjamin rezeki kalian, sebagaimana Dia menjamin rezeki burung yang keluar di pagi hari untuk mencari makan dan kembali pada sore hari dalam keadaan tercukupi.”

Dalam sunah Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan kepasrahannya ketika ia dilemparkan ke dalam api dengan tetap berikhtiar dengan membaca “Hasbunallāh wa ni‘mal Wakīl”. Nabi Muhammad Saw. juga membaca kalimat tersebut ketika dilaporkan kepadanya bahwa orang-orang kafir Quraisy bersekongkol untuk mencelakakan beliau dan para sahabatnya. Allah berfirman dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 173:

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

“Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

Sebagian ulama salaf r.a. berkata:

مَنْ رَضِيَ بِاللهِ وَكِيْلًا وَجَدَ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ سَبِيْلًا

“Barang siapa yang ridha kepada Allah sebagai wakil (tempat bersandar), niscaya ia akan mendapatkan jalan menuju setiap kebaikan.”

Hakikat tawakkal adalah keyakinan hati bahwa setiap perkara yang terjadi berada di bawah kekuasaan dan genggaman Allah Swt. Dari keyakinan ini tumbuh kesadaran bahwa tidak ada satu pun pihak yang mampu mendatangkan mudarat, memberikan manfaat, melapangkan atau menahan rezeki, kecuali Allah Swt.

Keyakinan tersebut melahirkan ketenangan dan kepasrahan hati terhadap janji dan jaminan-Nya. Dengan demikian, seseorang tidak diliputi kebingungan dan kegentaran ketika menghadapi musibah dan kemelaratan. Ia juga tidak terkejut atau kehilangan arah dalam menghadapi peristiwa-peristiwa penting maupun situasi kemalangan, karena hatinya senantiasa kembali dan bergantung hanya kepada Allah Swt., meskipun secara zahir ia tetap meminta dan memberi bantuan kepada sesama makhluk sesuai tuntunan syariat.

Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha atau sebab-sebab yang menjadi perantara datangnya rezeki.

Bahkan, tawakkal yang didahului oleh ikhtiar lebih dicintai oleh Allah Swt. daripada tawakkal yang tidak disertai usaha. Oleh karena itu, syarat seseorang dikatakan bertawakkal bukanlah meninggalkan sebab-sebab atau ikhtiar yang bersifat duniawi, melainkan tetap menjalankannya sesuai dengan kebiasaan dan ketentuan yang berlaku. Adapun hati tetap meyakini bahwa pemberi rezeki dan penentu hasil sejatinya adalah Allah Swt., bukan semata-mata usaha lahiriah yang dilakukan manusia. Hakikat tawakkal terletak pada keteguhan hati untuk bergantung kepada Sang Maha Pemberi, bukan pada keyakinan terhadap usaha lahiriah yang telah ditempuh. Selain itu, tawakkal melahirkan ketenangan batin, sehingga hati tidak mudah gelisah ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan, karena adanya keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan secara lahiriah terdapat kemudahan yang akan Allah hadirkan.

Kesimpulan

Tawakkal merupakan maqām spiritual yang berakar pada keyakinan tauhid yang mendalam, yakni pengakuan hati bahwa seluruh urusan berada dalam kekuasaan dan pengaturan Allah Swt. Al-Qur’an dan Hadis menegaskan bahwa tawakkal bukanlah sikap pasif atau penafian usaha, melainkan perpaduan harmonis antara ikhtiar lahiriah dan ketergantungan batin sepenuhnya kepada Allah sebagai al-Wakīl. Dalam perspektif para nabi, sahabat, dan ulama salaf, tawakkal melahirkan keteguhan iman, ketenangan jiwa, serta keberanian menghadapi ujian hidup tanpa kegelisahan yang melemahkan. Orang yang bertawakkal tidak menggantungkan harapan pada sebab-sebab duniawi, tetapi menjadikannya sekadar sarana, sementara hatinya tetap terpaut kepada Sang Maha Pemberi. Dengan tawakkal, musibah tidak memadamkan harapan, keterbatasan tidak melahirkan keputusasaan, dan kesulitan justru membuka jalan menuju kemudahan. Oleh karena itu, tawakkal bukan hanya ajaran teologis, tetapi juga etos hidup yang membimbing manusia untuk tetap berusaha secara optimal, berserah secara total, dan hidup dengan keyakinan bahwa setiap langkah berada dalam jaminan kasih sayang Allah Swt.

Author

Wakil Pengasuh PPK Alif Lam Mim Surabaya